SEBUAH
CATATAN SEJARAH
TENTANG PELANGI KEHIDUPAN
Ragam dan macam permasalahan
datang tanpa mengucapkan kata permisi, hakekat hidup mulai menuai banyak
likuan, entah itu pahit maupun keceriaan, rentetan berbagai macam cobaan yang
disikapi harusnya bisa menjadikan kita lebih dewasa dikala suasana mengatakan
hal lain terhadap pencapaian ketika hal itu digadang-gadangkan tuk digapai.
Alangkah berat penempuhan jarak jalan mencapai
finish kala kita hilang kendali dan tak bisa lagi mengemudikan kemudi diri ini,
dan ketika kita mengedepankan tujuan, kadang datang permasalahan berlipat
ganda, dan ketika tujuan itu telah dicapai kadang situasipun berubah menjadi lain pula.
Perjalanan hidup adalah ketika kita diuji dan
berusaha mencoba tuk menahan semua rasa yang menggundahkan hati dan menciutkan
semangat, perjalanan hidup tak mudah digapai ketika kita menghendaki apa yang
dikehendaki, bilamana tiba-tiba hal yang dikehendaki sirna ditelan putaran sang
waktu yang tanpa menunggu tuk merajalela setiap apa yang ia inginkan hilang
searah dengan silih pergantian.
Hari demi haripun berganti, usia semakin
termakan waktu, tubuh ini makin hari makin lemah dan kelak tak mampu lagi
berkutik, pernahkah disadari betapa berharganya kita dihari ini, pernakah kita
pikirkan bahwa detik ini adalah anugerah terindah yang masih kita dapatkan,
pernahkah kita pahami betapa dicintainya kita dikala hari ini kita masih mampu
menatap indah dunia beserta anugerah yang terlimpahkan didalamnya.
Kita Insan manusia memiliki kehendak dan ego yang begitu tinggi, tanpa sadar kita mengedepankan pencapaian sementara, tanpa ragu kita melakukan hal-hal yang kadang tak seperlunya digadang-gadangkan sebagai sesuatu yang terpenting demi kelangsungan hidup, dan tanpa permisi terkadang kita mampu membuat sayat-sayat jeritan luka pada sesama disekitar kita.
Kita Insan manusia memiliki kehendak dan ego yang begitu tinggi, tanpa sadar kita mengedepankan pencapaian sementara, tanpa ragu kita melakukan hal-hal yang kadang tak seperlunya digadang-gadangkan sebagai sesuatu yang terpenting demi kelangsungan hidup, dan tanpa permisi terkadang kita mampu membuat sayat-sayat jeritan luka pada sesama disekitar kita.
Renungkanlah sejenak, teteskanlah sedikit
titisan air mata dan
pahamilah bahwasanya kita hidup memiliki batas usia yang sudah terselipkan pada
buku duniawi. Apakah pernah kita menghayalkan satu hal bahwasanya kapan kita
akan dipanggil dan seperti apa kelak kita nanti ketika mata sudah tertutup,
nafas tak lagi berhembus, dan tubuh tak lagi bergerak.
Satu hal awal yang mungkin pernah kita
bayangkan yaitu ketika kita terlahir didunia ini dengan tangan yang masih
menggenggam, dan tangisan yang menggebu-gebu karena kita hadir dan akan melawan
deras arus kehidupan yang penuh dengan sandiwara-sandiwara. Tak lekang
oleh waktu,tak luput oleh dosa dan kehilafan-kehilafan itulah insan manusia,
mari bebenah, renungkan sejenak tentang apa yang sudah kita perbuat dihari
kemarin, masih banyak perkara yang telah membuat kita rapuh dan tak mampu
memahami sepenuhnya tentang arti dari sebuah dinamika.
Satu sisi dari sisi duniawi ialah tak mampu
kita rasakan pahit serta jeritan-jeritan saudara-saudara kita yang penuh dengan
kekurangan disekitar kita, sementara kita sendiri baru sedikit saja tersendak kadang
kita tak lagi ingin mengikuti arus kehidupan sesuai alurnya, muncul
problema-problema yang menciutkan niat kearah kebaikan, muncul rasa ego tanpa
memikirkan bahwasanya kita hanya diberi sedikit cobaan agar mampu menjadi insan
yang bersabar dan pandai bersyukur terhadap segala karunia yang diterima.
Olehnya itu selagi kita masih menghembuskan
nafas, selagi kita masih melihat indah dunia, selagi kita masih saling menatap
dan bisa saling memaaf-maafkan marilah kesempatan itu jangan kita sia-siakan,
dikarenakan kita tak pernah tau kapan ajal akan merangkul kita dan membawa kita
pergi dari dunia ini.
Kota Balikpapan, Kamis 17
Maret 2016