Mao melakukan perubahan
membentuk nasionalisme yang sangat kuat di negeri Cina lewat revolusi budaya.
Yang pertama kali dilakukannya adalah mengembalikan bahasa Cina baik yang
daerah maupun nasional untuk kembali digunakan dengan baik dan benar. Mao
sangat mengerti peranan bahasa di dalam perubahan dan membentuk bangsa dan
Negara. Dia juga sangat paham bahwa bahasa merupakan benteng terkuat dari
sebuah bangsa dan Negara yang melebihi dari senjata militer terkuat apapun. Hal
yang sama juga dilakukan di Jepang dan Korea di masa lalu. Lihatlah perubahan
Korea setelah terjadi perubahan dalam bahasa, di mana bahasa “gaul” menjadi
lebih penting dari bahasa Korea yang sejatinya.
Revolusi Perancis
berhasil merubuhkan aristrokrasi dan kaum borjouis namun ada satu hal yang
tetap mereka pertahankan yaitu bahasa “elite”. Biar bagaimanapun bahasa “elite”
ini patut dipertahankan untuk membuat Perancis tetap terjaga “keelitannya”.
Aristokrat dan borjouis dihancurkan tetapi mereka sadar penuh bahwa dengan
menjaga bahasa “elite” maka posisi Perancis akan tetap pada posisi “elite”.
Bahkan kaum kelas bawah pun terus diajarkan dan dibiasakan menggunakan bahasa
“elite” ini hingga saat ini untuk menjaga kehormatan, harga diri, jati diri,
kesejatian, dan posisi bangsa dan Negara Perancis.
Demikian juga dengan
Cuba dan Kolombia yang meski merupakan bekas Negara jajahan Spanyol, namun
mereka tidak mau menjadi bangsa dan Negara yang dianggap hina dan rendah.
Mereka mempertahankan tetap menggunakan bahasa Spanyol kelas atas dalam
keseharian. Di sinilah kehormatan dan harga diri mereka tetap terjaga dan sulit
untuk dihancurkan. Meski dijadikan sebagai bulan-bulanan Amerika dan Negara
lain dan dianggap Negara yang penuh dengan narkoba dan kejahatan, tetapi mereka
mampu bertahan. Sebagai catatan penting, mereka memang menjual narkoba tetapi
di Negara mereka sendiri, hukuman mati diberikan bagi siapapun yang menggunakan
narkoba. Hebat, kan?!
Bandingkan dengan
Amerika yang memang tidak memiliki dasar budaya kuat kecuali penduduk Amerika
asli yang dimusnahkan oleh pendatang dan penjajah. Amerika tidak memiliki
bahasa sendiri dan hanya mengambil bahasa Inggris sebagai bahasa mereka,
sementara dari keragaman penduduk, situasi, dan kondisi mereka saja sudah
berbeda. Ditambah lagi dengan berkembangnya bahasa “gaul” dan bahasa “jalan”
yang semakin memperlemah diri mereka sendiri, tak heran jika Amerika harus
mengandalkan senjata dan strategi politik menyerang untuk mempertahankan diri.
Sayang sekali, justru cara Amerika inilah yang dianggap benar, hebat, dan baik
pada saat ini serta ditiru oleh sebagian besar rakyat Indonesia.
Bagi sebagian besar,
bahasa sepertinya tidak dianggap penting dan hanya sekedar mampu berkata saja.
Jika dipelajari secara serius, bahasa merupakan sarana dan alat untuk kita
merasakan dan berpikir sekaligus sarana dan alat bagi kita untuk mengungkapkan
rasa dan pikiran. Setiap kata yang terurai dari kita adalah cermin dari hati
dan pikiran kita, yang memperlihatkan bagaimana struktur, pola, cara berpikir
dan juga wawasan serta intelijensia. Tidak ada satu pun manusia jenius yang
terlahir di dunia ini yang tidak menggunakan bahasa papan atas, sebab isi otak
papan atas mereka secara otomatis terurai lewat bahasa yang mereka gunakan.
Jika kita mau
mempelajari lebih mendalam lagi tentang bahasa, maka belajarlah dari bagaimana
Allah berbahasa. Allah bisa memilih menggunakan bahasa apapun di dunia ini,
namun mengapa Dia memilih menggunakan bahasa yang sedemikian indah dan
berkelas? Mengapa Dia tidak memilih menggunakan bahasa yang gampang dan mudah,
padahal Dia bisa lebih seenaknya dari semua makhluk ciptaan-Nya. Mengapa Dia
begitu berhati-hati di dalam memilih kata, membuat pola, struktur, dan menyusun
kata-katanya dalam kalimat-kalimat?! Bukankah Allah Maha Kreatif sehingga bisa
membuat bahasa suka-suka?! Jika sedemikian tidak pentingnya bahasa, maka Allah
tidak perlu repot-repot melakukan semua ini, kan?!
Lantas sekarang
bagaimana jadinya Indonesia bila pemimpinnya saja lebih memilih menggunakan
bahasa mereka sendiri dan asing?! Mengapa sedemikian egoisnya hingga hanya
memikirkan diri sendiri dan tidak memikirkan Indonesia seperti apa yang selalu
diungkapkan dan dijual?! Sebegitu tidak pentingnyakah Indonesia hingga selalu
mendahulukan diri dan bahasa sendiri?! Kata bisa berdusta namun kata juga
mengungkap semua dusta yang terurai lewat kata dan bahasa. Silahkan saja untuk
menyanggah dan tidak mengakuinya, tetapi sungguh ilmu yang diberikan Allah itu
sangatlah luar biasa. Seberapa hebat alasan, sanggahan, dan dusta yang terus
terurai tetapi Allah sudah mengajarkan bagaimana “membaca” dengan mengkaji
setiap kata bahkan huruf yang terurai dari setiap manusia. Sekarang barangkali
tidak dimengerti oleh kebanyakan tetapi semua ada masa dan waktu untuk
membuktikannya.
Jika dirimu adalah
“gue” maka saya bukanlah dirimu, dan jika saya adalah “elo” maka saya dan
dirimu bukanlah kita. Sementara seorang pemimpin bukanlah seorang penguasa yang
seenaknya tetapi sebaiknya memiliki kerendahan hati untuk menahan diri dan
melepaskan semua keegoisannya untuk bersama. Bukan soal suka atau tidak suka,
namun “mau-maunya gue” menjadi cermin keangkuhan yang hanya mementingkan diri
sendiri saja.
Jika bahasamu jauh
lebih penting dari bahasa Indonesia yang baik dan benar, maka apalah artinya
Indonesia bagimu?! Seorang pemimpin yang terhormat selalu mampu menggunakan
bahasa dengan baik dan benar karena tahu arti pentingnya bahasa bagi mereka
yang dipimpinnya. Jika memang bahasa Indonesia itu tidak dipentingkan dan
diprioritaskan, maka patut dipertanyakan “kelas” dan “kualitasnya” atau
bagaimana posisi Indonesia yang sesungguhnya bagi dirinya. Pantaskah
mengaku-aku merendah dan merakyat jika demikian?! Bahkan Allah pun tidak
diikuti dan diabaikan ajaran yang mendasarnya saja, apalagi manusia?!
Saya ingin seluruh
rakyat Indonesia mengerti dan sadar penuh dengan merendahkan hati untuk mau
terus belajar dan belajar. Kita hanyalah manusia biasa yang penuh dengan dosa
dan bisa berbuat salah. Buat saya, tidak perlu muluk-muluk, mulai saja
mengikuti apa yang diajarkan oleh-Nya dari hal yang paling mendasar yaitu,
membaca dan menulis. Membaca bukan hanya sekedar membaca kata dan
mengartikannya secara harfiah, tetapi tahu persis apa arti setiap huruf, kata,
kalimat, struktur, pola, dan susunannya agar mengetahui lebih jelas apa makna
tersirat, tersurat, teks dan konteksnya.
Seperti surat Al Insan
dalam Al Quran yang bila dijumlahkan setiap hurufnya maka menjadi rangkaian
kalimat-kalimat berisi petunjuk tubuh manusia, yang jika ditotal adalah sama
dengan jumlah simpul saraf tubuh manusia. Luar biasa, bukan?!
Begitu juga dengan
menulis, ajaran Allah yang pertama bagi saya adalah menulis. Dia memberikan
contoh dengan menulis kitab-kitab suci yang turun secara bertahap, yang menjadi
simbol bahwa semua ada prosesnya, sedikit demi sedikit hingga sempurna. Salah
tak mengapa namun yang terpenting adalah terus menulis. Jika pun tidak menulis
maka uraian kata yang terlontar dari mulut dan bibir sebaiknya mencontoh dari
apa yang telah diajarkan dan diberikan contoh oleh-Nya.
Susah?! Ya memang tidak
mudah, tetapi bukan tidak bisa bila tidak memiliki kemauan. Indonesia ini
membutuhkan pemimpin yang benar-benar mampu menjaga Indonesia, peduli dengan
Indonesia, dan memperioritaskan Indonesia. Oleh karena itu, hati-hatilah dengan
bahasamu, wahai pemimpin! Bahasamu walau penuh dusta tetap mencerminkan siapa
dirimu yang sesungguhnya! Saya tidak akan pernah mau terjerumus permainan politik bahasamu!
BAGAIMANA CALON PEMIMPIN KABUPATEN BUTON TENGAH...?
Semoga bermanfaat.
Kota Balikpapan
Rabu, 16 Maret 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar