CERITA RAKYAT
DESA WAKAMBANGURA
KABUPATEN
BUTON TENGAH - PROVINSI SULAWESI TENGGARA
Alkisah, Hiduplah pasangan suami-istri La Ure Bungke dan Wa Paitohu.
Awalnya mereka melakukan pertapaan di beberapa penjuru tanjung, yaitu pertama Tanjung
Dua Pohon, kedua Tanjung Kurumawu, ketiga Tanjung Weta dan keempat di Tanjung
Labobo. Setelah selesai proses pertapaan mereka di empat tanjung tersebut, mereka
kembali ke tanjung Weta untuk beristrahat dan bermalam disana. Tujuan pertapaan
mereka adalah ingin memperoleh keturunan, saat itu mereka belum mempunyai
keturunan, sementara usia mereka semakin hari semakin tua.
Beberapa hari kemudian istri La
Ure Bungke pergi mencari kerang di laut. Wa Paitohu Secara Tiba-tiba mendengar tangisan seorang bayi
perempuan di semak-semak pinggir pantai. Wa
Paitohu segera mencari sumber suara dan betapa kagetnya ia menemukan
sesosok bayi yang baru lahir yang masih merah berdarah dengan tali pusat (plasenta) yang belum di putuskan di
bungkus dengan kain yang berwarna merah tua,
perempuan itu menghampiri bayi tersebut, dan mencoba mencari ibu anak
tersebut. Setelah memeriksa disekelilingnya, Wa Paitohu tak melihat seorang manusiapun, maka di ambillah bayi
tersebut dengan niat di jadikan seorang anak.
Di Peliharalah anak perempuan tersebut oleh suami-istri tersebut, La Ure Bungke dan Wa Paitohu hingga dewasa dan di beri nama Putri Wakambangura.
Putri
Wakambangura tumbuh dewasa dan menjadi seorang Bunga Desa yang cantik jelita. Karena
kecantikanya Putri Wakambangura di
sukai banyak laki-laki dari seluruh penjuru desa. Hingga suatu saat datanglah
seorang pemuda tampan yang bernama La
Raja Nsulema yang disebut Pangeran
Laut (La Ode no Pasi).
La
Raja Nsulema jatuh cinta pada Putri Wakambangura
dan akibat dari besarnya rasa sayangnya pada Putri Wakambangura muncullah niatan sucinya menemui orangtua angkat
Putri Wakambangura yaitu La Ure Bungke dan Wa Paitohu, niatnya tak lain semata-mata ingin mempersunting Putri Wakambangura.
Namun apa hendak dikata, setelah bertemu orangtua Putri Wakambangura, La Raja
Nsulema ditolak, mereka tidak setuju dengan niatan La Raja Nsulema untuk menikahi anak semata wayang yang mereka
temukan sejak masih bayi karena berbagai macam alasan.
Beberapa hari kemudian karena keseriusan dan rasa sayangnya pada Putri Wakambangura, La Raja Nsulema tidak menyerah dan Ia berniat mendatangi orang tua Putri Wakambangura kembali. Saat Kedatangan
yang kedua kalinya orang tua Putri Wakambangura
tidak berada dirumah. Saat itulah La Raja
Nsulema tidak memiliki pilihan lain selain membawa Putri Wakambangura ke Laut dan untuk dijadikan permaisurinya.
Putri
Wakambangura dinyatakan hilang dan tidak diketahui lagi keberadaanya sejak di bawa
oleh La Raja Nsulema ke laut hingga
sekarang. Orang tua Putri Wakambangura
merasa sedih dan sangat kehilangan putri yang sangat mereka sayangi. Oleh karena
itu mereka selalu mengadakan upacara memperingati kepergian putri semata wayang
mereka tersebut.
Narasumber : SYAHRIR/ Kepala
Desa Wakambangura
Editor : MUHAMMAD
SHABUUR, S.Pd
Tidak ada komentar:
Posting Komentar