MENCARI PEMIMPIN,
BUKAN PENGUASA
Seorang pemimpin ibarat pilot dalam penerbangan yang membawa penumpang
menuju suatu tempat yang diinginkan. Sebagai pilot, tentulah ia harus memahami
dan menguasai semua instrumen di dalam cockpit, agar penerbangan berjalan
lancar, sehingga semua penumpang selamat sampai tujuan. Kecakapan pilot
mengendalikan pesawat dalam berbagai situasi, merupakan faktor terpenting bagi
keamanan dan keselamatan selama penerbangan.
Untuk menjadi seorang pilot, tentu bukan perkara mudah. Selain harus
mengikuti pendidikan formal selama beberapa tahun, ia juga harus melatih
kecakapan mengendalikan pesawat secara rutin, agar kemampuanya semakin terasah.
Setelah pendidikan dan pelatihan dilalui, masih ada satu tahap yang harus
dijalani lagi, yaitu ujian untuk mendapatkan lisensi layak terbang. Lisensi ini
mesti diperbarui dalam rentang waktu tertentu, sesuai jenis lisensi yang
dimiliki.
Tahap-tahap yang harus dilalui calon pilot itu, merupakan seleksi untuk
menentukan apakah ia telah cakap dan layak menjadi pilot atau tidak.
Dan tahapan seperti ini juga berlaku bagi seseorang sebelum mendapat amanah
menjadi pemimpin. Namun, fase yang harus dilalui seorang pemimpin jauh lebih
komprehensif dibanding tahapan menjadi pilot. Selain itu, bekal yang harus
dimiliki pemimpin melebihi bekal yang dibutuhkan seorang pilot.
Meski memiliki kriteria dan standar yang berbeda, pilot dan pemimpin
sama-sama memiliki tugas mengantarkan orang yang telah memberinya kepercayaan
sampai ke tujuan dengan selamat. Agar harapan ini terwujud, kita mesti selektif
memilih siapa yang layak dan pantas menjadi pemimpin. Sebab, salah pilih bukan
saja akan membuat perjalanan menjadi tak nyaman, tapi juga mengancam
keselamatan jiwa penumpang.
Dalam skala yang lebih besar, seperti Pemilihan Kepala Daerah (Bupati Buton
Tengah) yang akan berlangsung tahun 2017, memilih pemimpin merupakan bentuk
tanggungjawab kita sebagai insan beragama dan warga negara yang baik. Karena
itu, sebelum memberikan amanat kepada seseorang menjadi pemimpin, sebaiknya
kita memiliki gambaran lebih awal tentang karakter seorang pemimpin.
Gambaran ini sebagai
panduan agar kita tidak tersesat menentukan pilihan.
Pandangan pertama yang perlu kita sepakati adalah pemimpin merupakan abdi
masyarakat. Sebab, kepemimpinan merupakan amanah (titipan) dari Allah maupun
masyarakat yang harus dipertanggungjawabkan. Dengan menyadari kepemimpinan
merupakan amanah, semestinya tak perlu terjadi konflik untuk merebut kekuasaan.
Apalagi sampai menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya.
Pemimpin dan Penguasa
Dalam buku terkenalnya As-Siyâsah Asy-Syar’iyyah, Ibnu Taimiyah mengatakan,
karena kepemimpinan merupakan amanah, maka untuk meraihnya harus dengan cara
yang benar, jujur dan baik. Tugas yang diamanatkan harus dilaksanakan dengan
baik dan bijaksana. Karena itu, ketika memilih pemimpin seharusnya masyarakat
tidak melakukannya berdasarkan golongan dan kekerabatan semata. Seorang
pemimpin harus dipilih berdasarkan keahlian, profesionalisme dan keaktifan.
Menurut Ibnu Taimiyah, substansi kepemimpinan merupakan amanat yang harus
diberikan kepada orang yang benar-benar ahli, berkualitas, dan memiliki
tanggung jawab yang benar dan adil, jujur serta bermoral baik. Jika kriteria
ini bisa dipenuhi oleh seorang pemimpin, insyaallâh akan membawa pada kehidupan
yang lebih baik, harmonis, dan dinamis.
Amanah merupakan salah satu prinsip dasar kepemimpinan Rasulullah, selain
tiga prinsip lainnya. Yaitu shiddîq (jujur), fathânah (cerdas dan
berpengetahuan), amânah (dapat dipercaya), dan tablîgh (berkomunikasi dan
komunikatif dengan semua orang). Empat sifat dasar ini juga bisa menjadi faktor
yang membedakan antara penguasa dan pemimpin.
Seorang penguasa, biasanya mendapat kekuasaan dengan cara merebut dari
pihak lain, lewat peperangan atau penjajahan. Sebagian besar orang yang berada
dalam kekuasaannya, juga tak pernah merasakan kedamaian. Bahkan, tak menutup
kemungkinan mereka akan berada dalam kondisi tertekan, karena harus menuruti
setiap kemauan penguasa. Penguasa pun memiliki kewenangan tunggal dan bersifat
mutlak, serta tak bisa diganggu gugat.
Sedangkan pemimpin, mendapat kepercayaan dari orang lain karena diakui
kemampuan intelektual dan kematangan emosionalnya. Pemimpin yang baik, akan
selalu mendorong orang yang dipimpinnya untuk mengembangkan potensi. Karena itu
salah satu ukuran kesuksesan pemimpin justru dilihat dari kesuksesan orang yang
dipimpinnya. Semakin banyak bawahan yang sukses, berarti ia berhasil menjadi
pemimpin. Begitu pula sebaliknya.
Sunnah Kepemimpinan
Rasulullah merupakan tipikal pemimpin yang sukses melahirkan generasi
penerus yang layak menjadi pemimpin umat. Salah satu kunci sukses beliau adalah
kesediaan untuk berbagi dan menumbuhkan sikap tanggung jawab terhadap pekerjaan
yang menjadi tugas masing-masing. Faktor inilah yang menjadi salah satu
intisari dari pesan beliau, “Kullukum
râ’in wa kullukum mas`ûlun ‘an rai’yatihi.” Semua dari kalian adalah
pemimpin, dan kalian semua bertanggungjawab atas yang dipimpinnya.
Pemimpin yang bersedia berbagi dengan orang lain, akan menunjukkan
kematangan emosional, karena tak akan menganggap dirinya paling benar. Sikap
rendah hati ini memungkinkannya bisa menerima masukan dari orang lain untuk
mencari kebenaran.
Sikap ini pernah ditunjukkan Abu Bakar Ass-Shiddiq ketika diangkat menjadi
pemimpin umat setelah Rasulullah wafat. Dalam sebuah penggelan pidatonya, Abu
Bakar berkata, “Saudara-saudara, aku telah diangkat menjadi pemimpin, bukan
karena aku yang terbaik di antara kalian. Untuk itu jika aku berbuat baik,
bantulah aku. Dan jika aku berbuat salah, luruskanlah aku. Orang lemah di
antara kalian, aku pandang kuat posisinya di sisiku, dan aku akan melindungi
hak-haknya. Orang kuat di antara kalian, aku pandang lemah posisinya di sisiku,
dan akan kuambil hak-hak yang mereka peroleh dengan jalan yang jahat, untuk aku
kembalikan kepada yang berhak menerimanya.”
Dari penggalan pidato ini, ada beberapa pesan yang bisa diambil.
Pertama, rendah hati. Posisi pemimpin sebenarnya tidak berbeda dengan
rakyat biasa. Karena itu, pemimpin tak harus diistimewakan. Ia hanya orang yang
perlu didahulukan, karena ia mendapat kepercayaan dan mengemban amanat. Sikap
rendah hati ini, biasanya mencerminkan persahabatan dan kekeluargaan.
Kedua, terbuka untuk dikritik. Kritik dari rakyat dipandang sebagai bentuk
kepedulian mereka terhadap kelangsungan hidup bersama. Hal ini merupakan
partisipasi sejati. Karena, sehebat apapun pemimpin, pasti memerlukan
partisipasi orang banyak dan mitranya. Prinsip dukungan dan kontrol masyarakat
ini, harus diterima dengan lapang dada.
Ketiga, berlaku adil. Keadailan adalah faktor yang harus dimiliki seorang
pemimpin untuk kemakmuran rakyat. Pemimpin harus mampu menimbang dan
memperlakukan sesuatu secara adil dan menjauhkan dari dari sikap berat sebelah.
Orang yang “lemah” harus dibela haknya dan dilindungi. Orang kuat yang
bertindak zhalim harus ditindak. Wallâhua’alam bish-shahawâb.
Siapakah calon Pemimpin BUTON TENGAH yang mampu sesuai dengan Kriteria Kriteria
diatas....??
INGAT BUKAN CALON PENGUASA...